Berita  

Soal Pergantian Ketua DPRD Jakarta Dinilai Tokoh Muda Betawi Merusak Stabilitas Demokrasi di Jakarta

HALUAN JAKARTA – Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera ( ) melakukan rotasi jabatan Ketua DPRD DKI Jakarta menuai polemik. Langkah mencopot Khoirudin dan menggantinya dengan Suhud Alynudin dinilai sejumlah tokoh masyarakat Betawi sebagai langkah yang dapat merusak stabilitas demokrasi di Jakarta.

Kritik dari Tokoh Muda Betawi

​Ladunni, tokoh muda Betawi asal Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dinamika internal tersebut. Menurutnya, selama ini hubungan antar-politisi di Jakarta sudah berjalan harmonis dan penuh kebersamaan.

​”Ironisnya, masih ada pihak secara politis yang terkesan ingin merusak tatanan demokrasi. Selayaknya segera lakukan evaluasi internal atas apa yang dilakukan terhadap Ketua DPRD DKI Jakarta,” ujar Ladunni, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga  Bandara Singkawang Diresmikan Presiden

​Ia juga menyerukan kepada seluruh anggota DPRD DKI Jakarta untuk menolak usulan penggantian tersebut. Ladunni mencurigai adanya kejanggalan dalam proses rotasi ini.

Dugaan Rekayasa: Proses pergantian internal dinilai terkesan penuh rekayasa.
​Indikasi Cacat Hukum: Pihaknya menduga ada prosedur yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
​Ancaman Aksi: Jika aspirasi ini tidak didengar oleh Dewan Syuro PKS, Ladunni menegaskan akan mengerahkan massa untuk melakukan aksi besar-besaran di kantor PKS.
Dasar Pergantian dari PKS
​Berdasarkan informasi yang dihimpun, PKS secara resmi telah mencabut SK Nomor 128/SKEP/-PKS/2025 yang sebelumnya mengatur alat kelengkapan DPRD Jakarta periode 2024-2029.

​Dalam surat keputusan terbaru, PKS secara resmi mengusulkan:

Baca Juga  Polda Metro Hentikan Kasus, Hendry Ch Bangun Pertimbangkan Lapor Balik

​Pencabutan mandat jabatan Ketua DPRD DKI Jakarta dari Drs. H. Khoirudin, M.Si.
​Penunjukan Suhud Alynudin, S.IP., M.Sc. sebagai penggantinya.
​Meskipun mendapat gelombang protes, pihak PKS menyatakan bahwa langkah ini merupakan rotasi organisasi biasa dan menepis adanya isu konflik internal di tubuh partai berlambang padi dan bulan sabit tersebut.

​Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan pengamat politik masih menunggu perkembangan dari rapat paripurna DPRD DKI Jakarta terkait respon terhadap surat usulan penggantian pimpinan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *